Minggu, Mei 18th, 2008


Oleh : Fath Ws

Di Persimpangan

 

 

 Mungkin ada baiknya kugantikan wajah-wajah berbelepotan dengan wajah-wajah baru,

bukannya wajah dari kayu, cor atau plastik,

bukannya wajah tapir atau badak,

bukannya wajah bermake up tebal hingga tak mampu dibedakan antara topeng atau manusia,

tapi wajah-wajah kemenangan.

Mungkin ada baiknya kutanggalkan bercak dan bisul dengan lulur syukur kuning langsat, hingga bercahaya..

hingga tak seorangpun mencerca.

 

            Mungkin ada baiknya kusanggakan jiwa yang sempoyongan dengan tonggak keteguhan, bukannya tonggak yang merajam.

            Mungkin ada baiknya kugantikan verban pembalut luka itu dengan segenggam harapan dari-Mu,

sehingga patut sebagai sosok manusia.

 

Mungkin ada baiknya berbelok arah ,

hingga mencapai kuburku tanpa sesat

Mungkin ada baiknya kubasuh tapak-tapak kaki membiru di jalan yang terlewati….

hingga tak mampu mengenali

 

dan …mungkin ada baiknya cinta, kasih dan sayang itu hanya kuberikan untuk-Mu.

 

 

Lembah Tidar,
dalam keheningan –Des’05
fath_ws@yahoo.com

  

 

 Sajak Kalang Kabut

                                              oleh: Fath WS

 

Manuk kutut ..manut emprit,

perut gendut kebak duwit

Mangan kuwah wadahe tampah,

uang muntah larinya antah berantah

 

Kampus Lembah Tidar, (16 Ramadhan)

 Mei 1988

 

Buah karya : Fath WS

Gunung Sempu

 

     Aku datang menyapamu …

Temaram menyelimutimu… pijar sesekali menyeka rautmu…

Kau sungguh tampan dalam tidurmu…

 

Malam kian menggelayut,

Kubenamkan sanubariku tuk sekedar

mengeja detak jangtung dan jiwamu…

kudengar lirih tapi pasti,

rintihan jiwa pilu menyayat…

Kuterhentak…

Kutebarkan mata dan jiwaku di seluruh sudut ragamu…

Goresan pilu menyayat .. mencabik-cabik ragamu,

Tetesan rintik hujan yang kian menebal.. mengulitimu,

Kau tak kuasa menghela…

 

Dalam kepedihanmu … kububungkan asa…

Esok jemari putih membelaimu dengan hembusan

angin dan gemeretak kembang sunyi, abadi.

 

Kasihan Bantul, 29 Okt 2007

Keajaiban 3

 

Fath WS

Ketika padang gersang kian merangas,

Kata itu mengalis bagai gerimis,

Menyejukkan………

menghapus dahaga,

 

Ketika jiwa sunyi terbalut verban penutup luka,

Kata itu bagai sonata biru

Menghapus keletihan jiwa sunyi tak bertepi…

Membuai……….Menidurkan ……jiwa lara

 

Ketika jiwa sunyi dalam peraduan,

Kata itu berbelok arah tanpa sudut, tanpa tepi

Setiap detil notasi .. tak seindah sonata biru

ada perselingkuhan kata dalam kelindan haru biru

 

Ketika jiwa sunyi terjaga…

Kata itu telah senyap……….

Meninggalkan cucuran tanpa atap

Meninggalkan verban pembalut luka yang kian memerah

Meninggalkan seberkas syukur ke hadirat-Nya..

 

 

 

Lembah Tidar, Kamis-Jum’at

15-16 Mei 2008

 

Keajaiban 2

Fath WS

Lelah mengelayut menahan rasa tak bertepi,

Badai memekakkan tanpa menghiraukan kesunyian yang kian menghadang

Nada yang telah dironce menebar tanpa arah

Memojokkan gairah.

 

Dalam sunyi…… dalam pilu… dalam hampa…

Mengalir desir angin… biru sayu…

Membawa dendang syahdu mendayu….

Menerobos relung sanubari sunyi.

Memporakporandakan keteguhan hampa..

Ada jiwa tak mampu mengerti.

 

Dalam sunyi…… dalam pilu… dalam hampa…

Ada rona kian merekah..

Ada kilau cahya kian menebarkan kehangatan ..

Ada Aroma kian membahana

Ada jiwa sunyi dalam dekapan.

 

 

Lembah Tidar,

Sabtu, 03 Mei  2008

21.30-22.00

Keajaiban

 

Fath WS 

 Rasa kian tak terperi menadah asa tanpa nada,

Setumpuk badai rindu memacu deru jiwa lara,

Mendung tak terkira……… gemuruh kian membahana,

menyusup setiap relung pada sanubari berkaca.

 

Kemilau bening mengalir deras dalam paras,

Perca rindu membatu tanpa kata,

tanpa suara

menjelma kegalauan tanpa batas.

 

Desir mulai beringsut dari peraduan,

menyibak setiap sudut sanubari,

mengibas sayap menjelang awan,

terbang dalam maya………

 

dalam damai….. dalam sunyi……..dalam temaran………

kurengkuh kemilau cahaya tanpa pelita

kupahatkan dalam seluruh jiwa sunyi , sepi.

 

 

Lembah Tidar, medio April 2008

Aku kehabisan kosa kata

untuk sebuah sajak hampa yang berlinang air mata,

hingga semakin sunyi dalam keriuhan

 

 

Kataku gemericik bagai gerimis

tak mampu menembus dinding yang kian menebal, 

hingga asa yang kulambungkan

tergelincir memilukan

diantara onak yang menantang,

nyeri semakin nyeri

 

 

Aku berteriak dalam diam,

kusimpan sepenggal harapan dalam angan

kurelakan angin berbelok arah tanpa pesan

membawa gerimis yang pernah kupesan

senja kian sunyi

hampa.

 

Lembah Tidar, Medio Nopember 2002