religi


Ya Allah

kuingat Engkau saat alam begitu gelap

gulita, dan wajah zaman berlumuran debu hitam

Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang,

dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah

Betapapun kulukiskan keagungan -Mu dengan deretan-deretan huruf,

Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arah

Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna,

akan lebur, mencair di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku

Sumber:

Samson Rahman (penterjemah) dari Dr. Aidh al-Qarni, La Tahzan, Jangan bersedih, Jakarta: Qisthi Press, 2004

Oleh : Fath Ws

Di Persimpangan

 

 

 Mungkin ada baiknya kugantikan wajah-wajah berbelepotan dengan wajah-wajah baru,

bukannya wajah dari kayu, cor atau plastik,

bukannya wajah tapir atau badak,

bukannya wajah bermake up tebal hingga tak mampu dibedakan antara topeng atau manusia,

tapi wajah-wajah kemenangan.

Mungkin ada baiknya kutanggalkan bercak dan bisul dengan lulur syukur kuning langsat, hingga bercahaya..

hingga tak seorangpun mencerca.

 

            Mungkin ada baiknya kusanggakan jiwa yang sempoyongan dengan tonggak keteguhan, bukannya tonggak yang merajam.

            Mungkin ada baiknya kugantikan verban pembalut luka itu dengan segenggam harapan dari-Mu,

sehingga patut sebagai sosok manusia.

 

Mungkin ada baiknya berbelok arah ,

hingga mencapai kuburku tanpa sesat

Mungkin ada baiknya kubasuh tapak-tapak kaki membiru di jalan yang terlewati….

hingga tak mampu mengenali

 

dan …mungkin ada baiknya cinta, kasih dan sayang itu hanya kuberikan untuk-Mu.

 

 

Lembah Tidar,
dalam keheningan –Des’05
fath_ws@yahoo.com

Keajaiban 3

 

Fath WS

Ketika padang gersang kian merangas,

Kata itu mengalis bagai gerimis,

Menyejukkan………

menghapus dahaga,

 

Ketika jiwa sunyi terbalut verban penutup luka,

Kata itu bagai sonata biru

Menghapus keletihan jiwa sunyi tak bertepi…

Membuai……….Menidurkan ……jiwa lara

 

Ketika jiwa sunyi dalam peraduan,

Kata itu berbelok arah tanpa sudut, tanpa tepi

Setiap detil notasi .. tak seindah sonata biru

ada perselingkuhan kata dalam kelindan haru biru

 

Ketika jiwa sunyi terjaga…

Kata itu telah senyap……….

Meninggalkan cucuran tanpa atap

Meninggalkan verban pembalut luka yang kian memerah

Meninggalkan seberkas syukur ke hadirat-Nya..

 

 

 

Lembah Tidar, Kamis-Jum’at

15-16 Mei 2008

 

Keajaiban 2

Fath WS

Lelah mengelayut menahan rasa tak bertepi,

Badai memekakkan tanpa menghiraukan kesunyian yang kian menghadang

Nada yang telah dironce menebar tanpa arah

Memojokkan gairah.

 

Dalam sunyi…… dalam pilu… dalam hampa…

Mengalir desir angin… biru sayu…

Membawa dendang syahdu mendayu….

Menerobos relung sanubari sunyi.

Memporakporandakan keteguhan hampa..

Ada jiwa tak mampu mengerti.

 

Dalam sunyi…… dalam pilu… dalam hampa…

Ada rona kian merekah..

Ada kilau cahya kian menebarkan kehangatan ..

Ada Aroma kian membahana

Ada jiwa sunyi dalam dekapan.

 

 

Lembah Tidar,

Sabtu, 03 Mei  2008

21.30-22.00

Keajaiban

 

Fath WS 

 Rasa kian tak terperi menadah asa tanpa nada,

Setumpuk badai rindu memacu deru jiwa lara,

Mendung tak terkira……… gemuruh kian membahana,

menyusup setiap relung pada sanubari berkaca.

 

Kemilau bening mengalir deras dalam paras,

Perca rindu membatu tanpa kata,

tanpa suara

menjelma kegalauan tanpa batas.

 

Desir mulai beringsut dari peraduan,

menyibak setiap sudut sanubari,

mengibas sayap menjelang awan,

terbang dalam maya………

 

dalam damai….. dalam sunyi……..dalam temaran………

kurengkuh kemilau cahaya tanpa pelita

kupahatkan dalam seluruh jiwa sunyi , sepi.

 

 

Lembah Tidar, medio April 2008