<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Kolom Pengguna</title>
	<atom:link href="http://fathcity.wordpress.com/kolom-pengguna/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fathcity.wordpress.com</link>
	<description>Berbagi untuk sesama, menuju masyarakat madani</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Jan 2009 14:52:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: fathcity</title>
		<link>http://fathcity.wordpress.com/kolom-pengguna/#comment-9</link>
		<dc:creator>fathcity</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 01:08:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fathcity.wordpress.com/?page_id=25#comment-9</guid>
		<description>Menggapai Pelangi
Fath WS
Setia menghitung hari menanti gerimis, agar kegalauan jiwa kian sirna..
Kupesan pada setiap waktu, agar harapan dan harapan menjelma..

Satu kata kupersembahkan, kaku dua kata, tiga kata .......dan terus kukirim dan kupersembahkan beratus-ratus kata hingga tercipta satu nuansa yang mampu menyejukkan jiwa.

Tanpa lelah, kunanti gerimis ... lalu kuberlari mencapai ketinggian untuk menggapai pelangi yang terlukis dalam sorot jiwa putih.
Kupandang lekat..kugapai.. kaku kusemayamkan pada reling hati biru....hingga berseri bagai pelangi.

Usai gerimis, kulihat ada dua pelangi dalam dua jiwa, tersenyum mesra dalam rengkuhan-Nya.

Semarang dalam pengembaraan, 
15 Januari 2009</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menggapai Pelangi<br />
Fath WS<br />
Setia menghitung hari menanti gerimis, agar kegalauan jiwa kian sirna..<br />
Kupesan pada setiap waktu, agar harapan dan harapan menjelma..</p>
<p>Satu kata kupersembahkan, kaku dua kata, tiga kata &#8230;&#8230;.dan terus kukirim dan kupersembahkan beratus-ratus kata hingga tercipta satu nuansa yang mampu menyejukkan jiwa.</p>
<p>Tanpa lelah, kunanti gerimis &#8230; lalu kuberlari mencapai ketinggian untuk menggapai pelangi yang terlukis dalam sorot jiwa putih.<br />
Kupandang lekat..kugapai.. kaku kusemayamkan pada reling hati biru&#8230;.hingga berseri bagai pelangi.</p>
<p>Usai gerimis, kulihat ada dua pelangi dalam dua jiwa, tersenyum mesra dalam rengkuhan-Nya.</p>
<p>Semarang dalam pengembaraan,<br />
15 Januari 2009</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: fathcity</title>
		<link>http://fathcity.wordpress.com/kolom-pengguna/#comment-8</link>
		<dc:creator>fathcity</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 01:07:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fathcity.wordpress.com/?page_id=25#comment-8</guid>
		<description>Mengejar Satu Kata
Fath WS

Mengejar satu kata yang pernah kau usir dari ronggamu... tak pernah surutkan nyali, karena masih ada satu keyakinan bahwa jiwamu tetap putih.

Mengejar satu kata yang kini tak menentu... satukan rasa iba yang terlanjur basah... basah terguyur hujan nkepagian.

Mengejar satu kata yang mebiru.. wlau melelahkan sanubari.. namun tak pernah peduli karena ada satu keyakinan bahwa relung hatimu pun membiru.

Mengejar satu kata yang kau anggap tak berarti... satu kata misteri... satu kata sunyi...terselubung kagalauan.

Lembah Tidar tanpa makna, 
16 Januari 2009</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mengejar Satu Kata<br />
Fath WS</p>
<p>Mengejar satu kata yang pernah kau usir dari ronggamu&#8230; tak pernah surutkan nyali, karena masih ada satu keyakinan bahwa jiwamu tetap putih.</p>
<p>Mengejar satu kata yang kini tak menentu&#8230; satukan rasa iba yang terlanjur basah&#8230; basah terguyur hujan nkepagian.</p>
<p>Mengejar satu kata yang mebiru.. wlau melelahkan sanubari.. namun tak pernah peduli karena ada satu keyakinan bahwa relung hatimu pun membiru.</p>
<p>Mengejar satu kata yang kau anggap tak berarti&#8230; satu kata misteri&#8230; satu kata sunyi&#8230;terselubung kagalauan.</p>
<p>Lembah Tidar tanpa makna,<br />
16 Januari 2009</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
