Sajak Kalang Kabut
oleh: Fath WS
Manuk kutut ..manut emprit,
perut gendut kebak duwit
Mangan kuwah wadahe tampah,
uang muntah larinya antah berantah
|
Kampus Lembah Tidar, (16 Ramadhan) Mei 1988 |
Mei 18, 2008
Sajak Kalang Kabut
oleh: Fath WS
Manuk kutut ..manut emprit,
perut gendut kebak duwit
Mangan kuwah wadahe tampah,
uang muntah larinya antah berantah
|
Kampus Lembah Tidar, (16 Ramadhan) Mei 1988 |
Mei 18, 2008
Buah karya : Fath WS
Gunung Sempu
Aku datang menyapamu …
Temaram menyelimutimu… pijar sesekali menyeka rautmu…
Kau sungguh tampan dalam tidurmu…
Malam kian menggelayut,
Kubenamkan sanubariku tuk sekedar
mengeja detak jangtung dan jiwamu…
kudengar lirih tapi pasti,
rintihan jiwa pilu menyayat…
Kuterhentak…
Kutebarkan mata dan jiwaku di seluruh sudut ragamu…
Goresan pilu menyayat .. mencabik-cabik ragamu,
Tetesan rintik hujan yang kian menebal.. mengulitimu,
Kau tak kuasa menghela…
Dalam kepedihanmu … kububungkan asa…
Esok jemari putih membelaimu dengan hembusan
angin dan gemeretak kembang sunyi, abadi.
Kasihan Bantul, 29 Okt 2007
Mei 18, 2008
Keajaiban 3
Fath WS
Ketika padang gersang kian merangas,
Kata itu mengalis bagai gerimis,
Menyejukkan………
menghapus dahaga,
Ketika jiwa sunyi terbalut verban penutup luka,
Kata itu bagai sonata biru
Menghapus keletihan jiwa sunyi tak bertepi…
Membuai……….Menidurkan ……jiwa lara
Ketika jiwa sunyi dalam peraduan,
Kata itu berbelok arah tanpa sudut, tanpa tepi
Setiap detil notasi .. tak seindah sonata biru
ada perselingkuhan kata dalam kelindan haru biru
Ketika jiwa sunyi terjaga…
Kata itu telah senyap……….
Meninggalkan cucuran tanpa atap
Meninggalkan verban pembalut luka yang kian memerah
Meninggalkan seberkas syukur ke hadirat-Nya..
Lembah Tidar, Kamis-Jum’at
15-16 Mei 2008
Mei 18, 2008
Keajaiban 2
Fath WS
Lelah mengelayut menahan rasa tak bertepi,
Badai memekakkan tanpa menghiraukan kesunyian yang kian menghadang
Nada yang telah dironce menebar tanpa arah
Memojokkan gairah.
Dalam sunyi…… dalam pilu… dalam hampa…
Mengalir desir angin… biru sayu…
Membawa dendang syahdu mendayu….
Menerobos relung sanubari sunyi.
Memporakporandakan keteguhan hampa..
Ada jiwa tak mampu mengerti.
Dalam sunyi…… dalam pilu… dalam hampa…
Ada rona kian merekah..
Ada kilau cahya kian menebarkan kehangatan ..
Ada Aroma kian membahana
Ada jiwa sunyi dalam dekapan.
Lembah Tidar,
Sabtu, 03 Mei 2008
21.30-22.00
Mei 18, 2008
Keajaiban
Fath WS
Rasa kian tak terperi menadah asa tanpa nada,
Setumpuk badai rindu memacu deru jiwa lara,
Mendung tak terkira……… gemuruh kian membahana,
menyusup setiap relung pada sanubari berkaca.
Kemilau bening mengalir deras dalam paras,
Perca rindu membatu tanpa kata,
tanpa suara
menjelma kegalauan tanpa batas.
Desir mulai beringsut dari peraduan,
menyibak setiap sudut sanubari,
mengibas sayap menjelang awan,
terbang dalam maya………
dalam damai….. dalam sunyi……..dalam temaran………
kurengkuh kemilau cahaya tanpa pelita
kupahatkan dalam seluruh jiwa sunyi , sepi.
Lembah Tidar, medio April 2008
Mei 18, 2008
Aku kehabisan kosa kata
untuk sebuah sajak hampa yang berlinang air mata,
hingga semakin sunyi dalam keriuhan
Kataku gemericik bagai gerimis
tak mampu menembus dinding yang kian menebal,
hingga asa yang kulambungkan
tergelincir memilukan
diantara onak yang menantang,
nyeri semakin nyeri
Aku berteriak dalam diam,
kusimpan sepenggal harapan dalam angan
kurelakan angin berbelok arah tanpa pesan
membawa gerimis yang pernah kupesan
senja kian sunyi
hampa.
|
Lembah Tidar, Medio Nopember 2002 |
Mei 1, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!