Dunia Puisi
Fath WS

Dunia Puisi adalah dunia penuh Misteri
Seperti Dexter yang meminjam sebait catatan – Toto St Radik
“Di negeriku lelaki tak patut menitikkan air mata, aku pun pergi
ke negeri puisi, di mana kegembiraan dan kesedihan, keraguan dan cinta tak ditampik atau menampik “

Nalarku sepaham, seirama, sependapat dan se..se…se.. yang lain, dalam dunia puisi aku bebas menangis tanpa ada yang tahu kalau aku menangis, aku bebas tertawa tanpa ada yang terganggu, tanpa ada yang tahu kalau ada lelucon, bahagia, bahkan tawa dengan segenap makna yang beranekaaaaaaaaaaaaaaa ragam.

Ha………ha………..ha……….. aku bebas bicara, aku bebas mengungkapkan apa saja yang kumau dari sensitifitas sampai ketegaran, dari lubang semut hingga Goa Gong di Kota Seribu Goa…. (ini pasti tak banyak yang tahu….ya kan???)

Aku bebas berekspresi dalam segala bentuk raut muka tanpa ada yang tahu wajahku menjadi seperti Mak Lampir , topeng atau bidadari…. Dalam dunia puisi aku berselubung, tanpa ada yang tahu kulitku mulus bagai putri raja atau sekeras tapir atau badak..

Ah… hanya satu yang tidak berubah dalam dunia puisi, aku adalah aku, manusia yang tidak pernah sempurna, manusia yang harus berperan sebagai khalifah fil ardhi… yang harus selalu memiliki keseimbangan horisontal dan vertikal, yang harus mampu membelai makhluk lain dengan luapan kasih sayang…. siapapun mereka dan apapun namanya… dari belatung hingga buaya…. dari kuthuk hingga srigala… dari berudu hingga paus… dari kecambah hingga akasia, bahkan beringin yang penuh misteri..

Subhanallah…subhanallah..subhanallah…
Dunia puisi memang dunia misteri, tapi tanpa korupsi, kolusi dan nepotisme, tanpa polisi dan terali besi, tanpa mesiu dan bom bunuh diri…

Lembah Tidar dalam kemenangan,
31 Desember 2008

Untukmu 4
Kepada yang selalu ikhlas dan sabar
Fath WS

Kutemukan jasadmu di bawah kolong langit, terpancar cahaya pagi, hingga tak mampu lagi kukenali jasadmu yang dulu.. tapi jiwa dan nuranimu sangat lekat, bahwa engkau tak pernah mati..walau sekedar mati suri.

Dibibirmu kulihat dari angkasa, ada berbait-bait syair suci yang selalu mengalir seiring nafasmu…”itu kekuatan” begitu katamu…”Tuhanku yang memiliki kuasa dan kekuatan, aku hanya bisa memohon dan memohon” begitu kilahmu di sela isakmu.

Pergilah engkau dalam duniamu..biarkan aku tetap menahan diri dalam duniaku yang penuh misteri..pergi dan ingatlah
hanya yang sabar,
hanya yang ikhlas,
hanya yang selalu mengingat-Nya
kan terjaga selamnya
Lalu lambaian semu berkibas bagai angin surga, mengiringi kepergianmu.

Lembah Tidar dalam kelabu,
12 Januari ’09