Aku kehabisan kosa kata

untuk sebuah sajak hampa yang berlinang air mata,

hingga semakin sunyi dalam keriuhan

 

 

Kataku gemericik bagai gerimis

tak mampu menembus dinding yang kian menebal, 

hingga asa yang kulambungkan

tergelincir memilukan

diantara onak yang menantang,

nyeri semakin nyeri

 

 

Aku berteriak dalam diam,

kusimpan sepenggal harapan dalam angan

kurelakan angin berbelok arah tanpa pesan

membawa gerimis yang pernah kupesan

senja kian sunyi

hampa.

 

Lembah Tidar, Medio Nopember 2002

 

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!